Apa Hukum Aqiqah dalam Islam?

Apa Hukum Aqiqah dalam Islam?

Banyak yang masih belum mengetahui tentang Hukum Aqiqah dalam islam. kelahiran seorang anak biasanya juga membawa Kesempatan orang tua untuk menunaikan ibadah aqiqah. Aqiqah dilaksanakan bertujuan untuk mengungkapkan kebahagian dan memanjatkan syukur kepada Allah SWT.

Secara bahasa, aqiqah sendiri mempunyai arti “memotong” berasal dari bahasa arab “al-qat’u”. sedangkan menurut istilah, aqiqah adalah proses kegiatan menyembelih hewan ternak pada hari ke tujuh bayi dilahirkan. Tetapi, bagaimana dasar hukum aqiqah dalam islam itu sendiri apakah itu wajib dilakukan atau sunnah?

Apa Hukum Aqiqah dalam Islam?

Sudah menjadi pengetahuan yang biasa, dalam persoalan fikih akan sering dijumpai perbedaan dari pendapat kalangan para ulama fikih, terutama dari ulama fikih empat Mazhab.

Begitu juga dalam persoalan menentukan hukum aqiqah dalam islam. Bagi seorang muslim, dengan berpegang pada pendapat yang diamalkan oleh mayoritas ulama fikih insya Allah lebih menyelamatkan dari kekeliruan.

Para ulama mazhab Syafi’I dan pendapat masyhur Mazhab Hanbali menyatakan jika menunaikan aqiqah hukumnya sunnah muakkadah. Hal ini dari Nihayatul Muhtaj, 8/137. Al-Majmu’, Imam an-Nawawi, 8/435.

Dengan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Dari Samurah bin Jundub, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“ Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama.” ( HR. Abu Daud no. 2838, An-Nasai no. 4220. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Pendapat dari mazhab ini memahami jika makna “tergadaikan” adalah anak tersebut tidak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik sebelum diaqiqahi.

Mazhab Hanafi berpendapat jika aqiqah dibolehkan di hari ke-7, setelah memberi nama, mencukur rambut kepala, dan membagikan sedekah. Sebagian ulama ada yang mengatakan jika anak tersebut diaqiqahi sebagai ibadah tambahan dengan niat untuk bersyukur atas nikmat Allah.

Mazhab Maliki berpendapat, bahwa menunaikan aqiqah hukumnya mandub. Hukum Mandub ini derajatnya berada di bawah hukum sunnah, ( Syarh al-Kabir, ad-Dardir, 2/126 ).

Ada pula ulama fikih mazhab zahiri semisal Daud bin Ali dan Ibnu Hazm, keduanya berpendapat jika aqiqah hukumnya adalah wajib, (Al-Muhalla, 6/234. Al-Majmu’, 8/447). Tetapi, pendapat ini tidak banyak diamalkan oleh para ulama.

Dari beberapa pendapat dari ulama fikih dapat diketahui bahwa yang menyatakan jika hukum aqiqah dalam islam itu sunnah muakkadah merupakan pendapat yang banyak dipegang oleh mayoritas ulama mazhab. Dengan mengetahui hukum aqiqah, in sha allah akan lebih aman karena kita tealh menunaikannya sesuai dengan pendapat dari kebanyakan dari para ulama.

 

Semoga Bermanfaat

———————————–

Untuk anda yang mencari hewan yang baik untuk dijadikan aqiqah sang buah hati tentu butuh waktu yang cukup lama. Tenang, anda tidak perlu khawatir walaupun anda tak punya cukup waktu untuk datang langsung ke pasar hewan dan memilihnya sendiri. Sekarang ada Aqiahbrawijaya yang siap membantu anda dalam menyiapakan keprluan aqiqah anda untuk membuat momen anda dan si kecil lebih sempurna.

Untuk Informasi Pemesanan Paket Aqiqah Kediri, Paket Aqiqah Jombang, Hubungi Kami :

0852-3226-0853

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *